Habis Gelap Terbitlah Terang (selamat hari kartini)21/04/14



Habis gelap terbitlah terang

Buku yang sudah berwarna kuning tua tak utuh lagi dengan cover nya karya Armijn Pane ini memuat kisah panjang seorang R.A Kartini pahlawan perjuangan kita ,yang memperjuangkan hak-hak perempuan agar disamakan derajatnya dengan lawan jenisnya. Disini banyak memuat kata kata indah dari surat menyurat R.A Kartini dengan sahabatnya di negeri yang menjajah negeri kita ini selama berabad abad lamanya. Buku yang menceritakan kisah pilu seorang kartini yang tidak bisa melihat bebas dunia luar layaknya burung yang dikurung didalam sangkar memang adat orang jawa yang selalu memingit anak perempuannya ketika menginjak usia remaja dikawinkan oleh orang yang tak dikenalnya seperti disebuah penjara dalam gelap pemutus cita dan harap namun,seperti pepatah ‘kita tidak akan bisa melihat terang jika tidak ada gelap’ dan sebaliknya kartini akhirnya berhasil melanjutkan cita citanya memperjuangkan hak hak wanita,dan pendidikan wanita di jaman dulu yang gelap gulita hingga jaman yang terang benderang seperti ini walaupun tetap ada gelap disudut sudut ruang.

PADA KAKIKU TERNGANGA JURANG,DI ATAS DIRIKU MELENGKUNG LANGIT TERANG CUACA 

“Bukan nyanyian,bukan lagu sebenarnya,hanyalah bunyi dan suara,amat lemah lembutnya,tiada tetap,bergetar tiada berketentuan,berterbangan,tetapi alangkah rawannya hati,alangkah indahnya! Bukan, bukan suara kaca,tembaga,kayu, yang naik itu ke udara,melainkan suara yang keluar dari sukma manusia,meresap kedalam hati,kadang-kadang berkeluh kesah,sebentar lagi meratap menangis,sekali-kali gelak tertawa.”

“Aku tiada hendak melihat,tetapi mataku tinggal terbeliak juga,dan pada kakiku ternganga jurang yang dalam sedalam-dalamnya,tetapi bila aku menengadah ,melengkunglah langit yang hijau terang cuaca di atasku dan sinar matahari keemasan bercumbu-cumbuan,bersenda gurau dengan awan putih bagai kapas itu; maka dalam hatiku terbitlah cahaya terang kembali!”
Memang belum habis lahap dibaca semua,tidak adapun setengahnya karena tebal buku yang hampir seperti paket pelajaranku seakan akan tak mampu membuatku melahap semua ini dengan bahasa yang kaku dan tidak sesuai dengan zamanku. Alangkah lebih baik jika aku mengambil kesimpulan dari apa yang kusuka dan benar sama satu opini . mungkin masih banyak kalimat yang disusunnya dengan sangat indah laksana membuat hati ini sejuk saat membacanya karena pencerahan pencerahan yang kita dapatkan dari seorang kartini ,belajarlah dari dia yang tak pernah putus asa melawan kebodohan sebagai mana orang jawa dulu yang tidak terlalu mementingkannya .
Seperti untaian kalimat pada halaman 179

“ diamlah jangan mengaduh,jangan mengeluh,jaangan meratap.mendoa, itulah yang kuhendaki,mendoa belaka dengan tiada putus-putusnya,moga-moga kami tetap seperti dahulu; periang dan percaya apa juapun gerakan akan menimpa diri kami di kemudian hari!

“ kerapkali saya berseru kepada orang lain “janganlah berputus asa ,dan janganlah menyesali untung,janganlah hilang kepercayaan hidup,kesengsaraan itu membawa nikmat.tidak ada yang terjadi berlawanan dengan rasa kasih. Yang hari ini serasa kutuk,besoknya ternyata rahmat. Cobaan itu adalah usaha pendidikan Tuhan ! “

Tahukah kalin setiap akhir kata selalu diberi tanda seru ? ya,untuk menyerukan kalian agar bisa termotivasi dengan paragraf tersebut.
Makna didalam setiap paragraph itu sangatlah dalam,cernalah!
Terakhir,
“anak-anakku , jika tidak mendapat pelajaran ,engkau tiada akan mendapat kesenangan,turunan kita akan mundur ,ingatlah” –P.A Tjondronegoro

Komentar