Nggak harus sama.

Makin dewasa, gue makin bisa melihat hidup ini sangat sangat luas. Lo nggak bisa hanya melihat dari satu perspektif aja, karena setiap manusia ditakdirkan mempunyai karakter dan pandangan yang berbeda-beda. Dulu , melihat fisik seseorang aja yang menurut gue bukan sesuatu yang lumrah , yang bisa gue anggap wajar dan normal selayaknya manusia , gue suka ngomong sendiri dalem hati, misalnya “kok, ini orang tinggi banget sih?”, “gendut banget”, “ihh, jerawatnya banyak”, “mukanya boros banget dah”, dan sebagainya yang mengarah ke fisik. Gila, kalo diinget-inget nggak sopan banget gue waktu itu bisa-bisanya menghina ciptaan Tuhan. Padahal, diri gue aja nggak sempurna. Walaupun yaa, nggak pernah gue ngomong langsung tapi,tetep aja itu bukan hal yang sopan. Selain ngomongin fisik orang, dulu gue juga masih bingung kalau berhadapan sama orang yang beda pendapat dan akhirnya jadi debat-debat nggak jelas padahal topiknya juga nggak penting-penting banget. Makin kesini gue makin sadar kalau cara berpikir gue dulu sempit banget, nggak bisa menerima pendapat orang lain , gue yang harus merasa sama. Padahal, pola pikir orang beda-beda. Kalau kita diciptakan dengan pola pikir dan kebiasaan yang sama juga fisik yang sempurna mungkin Tuhan akan melahirkan manusia-manusia yang egois, yang selalu merasa dirinya lebih hebat dari orang lain. Kita nggak bakal saling butuh, saling tolong-menolong, saling menasihati karena hidup kita udah sempurna. Padahal hakikat manusia itu adalah makhluk sosial, yang saling membutuhkan satu sama lain, itulah mengapa Tuhan menciptakan kita berbeda agar bisa saling melengkapi kekurangan dan kelebihan. Seorang teknik sipil membutuhkan arsitek untuk merancang dan mendesain bangunannya, seorang dokter yang membutuhkan perawat dan apoteker , dan sebagainya. Tapi, melihat keadaan hidup sekarang ini semua orang bersaing, berambisi , egois dan merasa bahwa dirinya yang paling hebat dan sempurna  ya, dia lupa akan tujuan hidupnya. padahal balik lagi ke tadi, bahwa hidup itu bukan tentang diri sendiri, tapi ketika hidup kita bisa bermakna untuk orang lain. Melihat keanekaragaman yang ada di negeri sendiri, melihat tradisi dan gaya hidup di negeri orang membuat gue makin bersyukur bahwa Tuhan memberikan ini semua agar kita bisa belajar menghargai perbedaan. Dan perbedaan inilah yang bikin hidup didunia ini jadi semakin berwarna. Lupakan soal suku, agama, budaya, hobi, selera musik dan latar belakang  yang berbeda. Karena kita dilahirkan bukan untuk hidup di suku jawa, kita dilahirkan bukan untuk hidup di suku batak, kita dilahirkan bukan hanya sebagai seorang muslim tapi, kita dilahirkan menjadi manusia yang berperikemanusian , yang mempunyai akal dan perasaan.
Di usia meranjak dewasa inilah, gue makin sadar bahwa prinsip hidup orang itu berbeda-beda. Kita nggak harus berada dijalan yang sama seperti mereka, karena semakin dewasa lo akan tau dan bisa membedakan mana yang baik dan bukan, mana yang lo butuhkan, mana yang menjadi prioritas, mana yang akan merubah lo menjadi pribadi yang lebih baik. Memang kita membutuhkan saran dan kritik dari orang lain, tapi nggak semua harus lo telan bulat-bulat. karena bisa memutuskan untuk keluar dari zona nyaman dan menjadi diri sendiri itu lebih sulit daripada terpaksa untuk mengikuti apa yang sebenarnya bukan kita inginkan. Belajar 5 jam non-stop itu nggak lebih sulit ketimbang belajar menghargai perspektif dan keputusan orang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REMAJA JAMAN SEKARANG

Ayo Mengajar Batch 2 bersama SDN Mekarwangi

Kenali Potensi, Wujudkan Mimpi!