20s


20s

Sebelum gue memulai tulisan ini, ada kalanya gue menyapa dulu penghuni atau pengunjung blog ini. Wait? Emang ada yang baca? Ya, kali aja. Haha
HAI GUYS. Whatsupp yo? Im fine but not really really  fine in life haha u know.
Terakhir kali gue nulis blog itu kapan ya? oh yaps September bruh. Seperti layaknya manusia overthinking lainnya, kayanya gelisah banget kalo sesuatu yang bergejolak di kepala nggak gue ungkapin di blog ini.
Seperti judulnya, 20. Yak,gue akan mengungkapkan sebuah tulisan soal usia 20 yang gue alamin ini. April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober,November, 8 bulan gue berumur 20 Tahun. Hampir 9 bulan malah. So, apa yang lo hadapin? Kok kayanya penting banget buat nulis ini.
Sebenarnya bukan cuma apa yang ada di diri gue, tapi lingkungan juga. Usia 20, hmm. Untuk yang udah lulus antara meneruskan kuliah atau bekerja. Untuk yang kuliah saat ini kurang lebih lagi di Semester 5. Menuju semester tua, dimana mikirin judul buat penelitian a.k.a skripsi harus mulai dipersiapin. Oh jadi tugas kuliah masalah lo? Oh, bukan –bukan. Tentu masalah yang lebih serius. Gue akan membagi ke beberapa poin agar bisa dibaca dan dimengerti dengan seksama.

KULIAH DAN KARIR.
Di fase ini, apalagi yang udah menginjak semester 5. Pasti udah mulai menanya-nanya hidup gue akan dibawa kemana? Lanjut S2 kah? Atau bekerja disebuah perusahaan. Menjadi seorang professional atau mau nikah aja? Haha. Banyaaaak banget pilihan di otak lo yang mulai menghantui lo setiap saat. Yaps, kata orang kebanyakan ini namanya Quarter Life Crisis dimana hampir seperempat abad lo hidup, dan lo mulai akan memikirkan masa depan yang lebih baik. Apalagi untuk urusan kuliah dan karir. Penting banget untuk tahu mau dibawa kemana hidup dan tujuan yang lebih jelas.”Mm, kayaknya ggue mau lanjut S2 deh. S1 sekarang aja banyak yang nganggur.” Silahkan, atau “Gue mau meneruskan bisnis Bokap.”, Or “Aah, gue mah udah ada calon. Mau married aja” Monggo, semua pilihan itu ada di tangan lo. Mau lo langsung kerja, atau sekolah lagi bahkan mau nikah. Nggak ada yang salah. Semua itu bergantung dengan bagaimana cara kita menyikapi pilihan-pilihan ini dengan dewasa dan tentunya realistis. Buat gue sendiri, gue akan bekerja dulu. Kerja apa? Nah itu belum gue pikirin lagi Haha. Yang gue pikirkan saat ini adalah memperbaiki kualitas yang ada diri gue. Soft skills, hard skills, publik speaking, belajar bahasa asing, dsb. Dulu gue sempet akan melanjutkan S2, siapa sih yang nggak mau punya gelar master? Tapi, karena satu dan lain hal. Kayanya gue nggak mungkin langsung untuk meneruskan sekolah lagi. Secara financial, S2 itu selain nguras otak pastinya nguras duit juga. Dan gue nggak mau juga menyusahkan kedua orang tua lagi. Target gue, gue akan S2 dengan biaya gue sendiri, syukur-syukur kalau dapet beasiswa. Aamiin. Intinya masalah kuliah dan karir ini harus gue persiapkan secara mateng kalau perlu samapi gosong. Haha. Kuliah bukan cuma kuliah. Karena disini kita dituntut untuk mandiri secara belajar. Menurut gue, dosen adalah jembatan ilmu aja. Kuliah itu Cuma 40% nya ilmu. Terus yang 60% kemana? Itu ada saat di luar kelas. Ketika lo ikut forum Internasional misalnya, dalam berorganisasi, diskusi tentang isu-isu yang ada di jurusan lo. Jadi, menurut gue kuliah tok. Cuma cari ilmu di kuliah itu bakal nyesel banget sih. Karena ada banyak hal sebenarnya yang bisa kita laluin selain belajar dikelas. Ikut kegiatan Volunteer, Lomba , perbanyak relasi buat kedepan juga penting banget. Karena itu semua bakal berguna buat kedepannya.

URUSAN PERTEMANAN DAN CINTA.
Gue rasa semua orang akan berpikir sama kalau circle pertemanan di usia-usia ini mulai menyempit. Yak, lo akan merasa nyaman dengan beberapa orang. Temen yang mungkin suka nongkrong bareng udah nggak ikut lagi, karena kesibukan masing-masing. Tapi tapi, circle pertemanan yang makin mengecil ini bukan sesuatu yang masalah buat gue. Justru prinsip hidup gue adalah “ Quality over Quantity” jujur aja gue lebih suka berteman dengan beberapa orang dibandingkan banyak temen, nongkrong sana-sini tapi lo bahkan nggak tahu menahu soal latar belakang hidup mereka, yang lo tahu Cuma Haha Hihi nya aja. Bahkan cerita soal mimpi masing-masing, tujuan hidup masing-masing susah seneng dsb. Karena gue juga sadar diri, semakin kesini manusia akan terus menuruti ego-nya. Kepedulian satu sama lain akan hilang. Cinta. Mmm, kayaknya yang satu ini Cuma bikin gue menghela napas aja. Salah satu faktor yang bikin gagal fokus diusia 20-an. Kayanya untuk ini, lo udah mulai nggak mau main-main lagi udah bukan saatnya pacaran yang nonton, makan, chat-an, nonton, makan, chat-an. Repeat. Ada hal yang lebih serius yang mulai lo persiapkan. dan gue adalah salah satu orang mungkin dari 1000 :1 orang yang belum kepikiran buat kesana. Haha. Gue nggak peduli juga sih, orang mau bilang apa. Mungkin yaa disaat orang lagi galau-galaunya mikirin soal cinta. Kayanya gue hidupnya paling santai banget urusan beginian. Karena yang gue tahu ketika gue memperbaiki kualitas diri dan kualitas ibadah gue sama yang diatas. Urusan begituan, kayanya bukan hal yang menjadi prioritas gue. Karena gue tahu toh jodoh juga udah ada yang ngatur. Dan Jodoh adalah cerminan diri kita. Kadang yang gue pikirin adalah bukan masalah “mencari” tapi diri gue yang belum bisa baik ini. Okay, okay Stop. Lanjuttt

INDEPENDEN.
Nah ini nih yang bikin gue paling galau. Usia 20 adalah usia dimana gue harus bisa independen dalam pemikiran dan financial. Maksud gue secara pemikiran adalah sikap kita yang udah nggak bisa lagi menentukan pilihan dan tujuan hidup karena teman-teman lo, karena saudara atau keluarga lo. Berpikir secara independen adalah ketika lo bisa menyelesaikan masalah dan menentukan mana yang baik dan bukan dari diri lo sendiri bukan karena hasutan atau pengaruh dari orang lain. Contoh kecilnya adalah ketika lo mau ikut ke suatu acara tapi, temen lo nggak bisa. Terus lo jadi males dan nggak jadi. Menurut gue itu bisa menghambat lo untuk maju. Memang agak susah untuk tidak bergantung dengan orang lain. Tapi, gue mau nggak mau harus bisa mandiri tanpa bantuan siapapun. Karena ketika udah dewasa nanti, lo akan dituntut untuk menghadapi segala sesuatu sendiri. Dengan atau tanpa siapapun itu udah secara alamiah membentuk karakter dan pribadi kita menjadi lebih kuat menghadapi apapun. Selanjutnya adalah independen secara financial. Waktu liburan kemarin, gue sempet berpikiran untuk bekerja part-time dan gue bertekad untuk itu. Setelah berbulan-bulan nyari. Iya,serius. Nyari kerja itu emang susah. Sekalipun udah nemu, lokasi yang nggak memungkinkan, dan lain hal jadi hambatan gue. Akhirnya setelah berbulan-bulan gue cari-cari informasi di setiap web jobs, sampai waktu itu gue bikin semua akun pencari jobs gitu. Haha. Finally, gue dapet juga walaupun Cuma freelance seenggaknya gue puas terhadap diri gue yang waktu itu berjuang buat nyari kerja. Definisi “Nyari kerja itu Susah” udah gue buktiin ternyata. Part-time, freelance kayaknya bukan hal yang tabu lagi dikalangan mahasiswa. Karena kebutuhan yang makin banyak, sedangkan pendapatan Cuma segitu-segitunya. Apalagi yang punya adik banyak. Dari cari part-time, olshop, bahkan ikut seminar dan jadi penonton bayaran juga dilakuin buat nyari sesuap nasi. Apalagi, minta orang tua lagi lo udah mulai nggak enak. Cari beasiswa pun nggak semudah itu, Ferguso! Haha.
Yaps, tentunya hidup yang lebih mandiri emang wajib banget diterapin di Quarter Life Crisis ini. Supaya kita nggak Cuma bisa menuntut dan minta dari orang tua, tapi biar kita juga bisa ngerasain gimana susahnya buat bertahan hidup di akhir bulan.

Memang di usia 20-an ini, usia yang sulit buat sebagian orang termasuk gue. Fase-fase galau dan kebingungan dalam menentukan hidup akan dibawa kemana, pikiran-pikiran itu yang udah jadi makanan sehari-hari. Apalagi kalau melihat rumput tetangga yang lebih hijau, padahal itu hanya mengenai waktu aja. Nggak semua orang bakal dijatah sukses di usia 20-an , nggak semua orang hidupnya mudah, nggak semua orang bisa ngerasain fasilitas hidup yang sama, nggak semua orang punya pendapatan yang sama. Lagi-lagi yang gue bisa lakukan adalah bersyukur yang nggak henti-hentinya. Ada kalanya gue melihat keatas tapi nggak memungkiri juga gue harus melihat ke bawah.

          Merasakan hidup di usia 20 ini, makin bikin cara berpikir gue yang masih tahap ABG labil untuk dipaksa menjadi dewasa. Belajar menjadi seorang yang nggak mudah insecure dan peduli buat sesama, nasib baik atau burukkah yang ada ditangan gue, semua usaha dan kerja keras yang gue lakuin dari gue masih kecil menjadi sebuah renungan bahwa gue udah berada di masa-masa ini. Sedikit lagi, gue akan keluar dari lingkungan ini. Itu doang yang gue pikirin. Sedikit lagi lo akan merasakan bagaimana hidup yang sebenarnya. Sedikit lagi lo akan menjadi dewasa seutuhnya. Walaupun hidup gue nggak sebaik orang lain, walaupun gue nggak bisa merasakan apa yang orang lain punya. Walaupun gue harus bekerja keras dulu, tapi gue tahu usaha gue akan dibayar suatu saat nanti. Gue percaya hidup ini adil. Nggak mungkin gue dibawah terus, nggak mungkin juga berada diatas. Pasti akan ada masanya, dimana gue mensyukuri apa yang udah gue laluin. Tinggal tunggu aja apa yang akan gue tuai nanti.

        Semoga lo yang sedang menghadapi Quarter Life Crisis ini bisa menyikapi hidup lebih bijaksana, inget nggak ada orang yang sempurna. Tapi kita bisa menjadi orang baik buat hidup yang lebih baik. Nggak Cuma memperbaiki kualitas hidup di dunia tapi, komunikasi dengan sang pencipta juga nggak boleh renggang.

Explore , cari pengalaman sebanyak mungkin, don’t be overthinking about something u don’t need to think about. Let It Flow! Because, you’ll be fine . everything’s gonna  be okay.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

REMAJA JAMAN SEKARANG

Ayo Mengajar Batch 2 bersama SDN Mekarwangi

Kenali Potensi, Wujudkan Mimpi!