Cara Mematahkan Stigma Beauty Privilege
Cantik, Ingin kata hati
berbisik..
Untuk melepas keresahan
Dirimu..
Okay, stop. Stop nyanyinya.
Tau kan cuplikan lirik lagu diatas? Iya, itu lagu cantik dari
kahitna.
Beberapa hari yang lalu seantero
sosmed di hebohkan sama pernikahannya artis pemain “Ayah mengapa aku berbeda?”
iya, siapa lagi kalau bukan Dinda Hauw dan selebgram bernama Rey Mbarang.
Sejujurnya gue nggak tau sih si Rey Mbarang ini. Hehe. Pernikahan yang mendadak
dan dikabarkan taaruf ini bikin netizen Indonesia pengen juga ngerasain ke-uwu-an mereka. Nah, terus apa
hubungannya pernikahan mereka sama lagu kahitna? Emang nggak ada hubungannya
guys. Haha. Nah, kemudian setelah dipuja-puji oleh para netizen penikmat
ke-uwu-an ini, Dinda Hauw mengupload ke instastory suaminya yang lagi masak mie
dengan caption yang pada intinya dia nggak bisa masak, even masak nasi dan mie
instan. Terus viral lagi lah pasangan yang baru sehari nikah ini. Ada yang pro
dan kebanyakan ya, kontra. Karena fisiknya yang cantik, sekedar masak mie
instan nggak bisa hal itu di normalisasi dan diromantisasi, ya karena dia
cantik.
Lusa kemarin pas banget gue juga baru
nonton Film Imperfect di situ tokoh Rara menggambarkan banget kalau beauty
privilege emang bener-bener ada. Jadi, dia nggak bisa naik jabatan gara-gara
nggak punya penampilan yang menarik, sedih kan?
Tapi, sebenarnya seistimewa itukah
punya anugerah cantik atau ganteng? Eh tapi, gue nggak bilang bahwa nggak bisa
masak adalah sebuah kesalahan, lantas kita harus menjudge yang gimana-gimana. NO! Disini gue mencoba melihat dari sisi
“Beauty Privilege” .Ya, kali ini gue mau ngomongin soal hak istimewa kalau kita
punya wajah yang rupawan. Kata orang-orang sih punya wajah yang cantik atau
ganteng setengah masalah lo di kehidupan yang fana ini bakal selesai. Hah,
emang iya?
Bener nggak sih statement punya wajah yang cakep semua urusan bakal
dipermudah? Jalan hidupnya nggak berkelok-kelok kayak orang yang punya wajah
standar.
Sebuah studi berjudul Why Beauty
Matters pada Maret 2006 dari American Economic Review mengatakan bahwa orang
yang memiliki wajah menarik, otomatis ia akan dilihat positif juga dari hal-hal
lainnya, seperti kecerdasan, kesehatan, bahkan kemampuan bersosialisasi.
Kemudian penelitian dari The Social Science Research Network di tahun 2016
menyatakan bahwa CEO yang memiliki penampilan yang menarik lebih besar
pendapatannya, dibandingkan CEO yang tidak menarik.
Karena stigma seperti inilah,
akhirnya banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi cantik agar mereka bisa
diterima dan dihargai di lingkungannya. Pretty
sad, right? Tapi memang ada yang seperti itu kenyataannya.
Tapi, emang iya
sepenuhnya enak punya privilege tersebut?
Ternyata nggak kok, guys. Hasil riset yang gue telusuri di
internet dan pengamatan langsung di lapangan, melihat sendiri bagaimana orang
cakep itu diperlakukan ternyata nggak selamanya benar. Banyak orang cantik yang
malah mengganggap anugerah Tuhan itu adalah musibah. Kenapa? Karena mereka banyak
di ganggu oleh lawan jenis. Dalam urusan percintaan pun seperti itu, mereka jarang
sekali menemukan orang yang tulus bukan hanya sekedar dari wajah atau
penampilannya, bahkan yang paling mengejutkan saat didunia kerja atau dibidang
akademis si pemilik gelar “pretty privilege” ini dianggap nggak capable atau bodoh, karena mereka berpikir
yang diurusin cuma luarnya aja. Ada juga yang memberikan ekspektasi yang tinggi
sama si cantik ini.
Jadi, kenyataannya nggak mudah juga
kan punya wajah yang rupawan. Memang mempunyai wajah yang cantik itu adalah
anugerah, dan kita juga nggak boleh memungkiri itu. Ada yang memang menjadi
enak hidupnya, ada juga yang malah menanggung beban karena ekspektasi
orang-orang disekitarnya. Jadi tidak selamanya mempunyai wajah yang cantik itu
menguntungkan, guys. Dan sebaliknya
mempunyai wajah yang standar-standar aja juga nggak selamanya merugikan.
Jadi, kita harus gimana
buat menanggapi stigma “Beauty Privilege”?
Menurut gue sendiri, kita nggak perlu
memenuhi standar kecantikan yang orang agung-agungkan. Untuk menjadi putih,
mulus, nggak jerawatan, langsing, tinggi dan sebagainya. Tapi yang paling
terpenting adalah menjaga penampilan dan menjadi diri kita sendiri dibandingkan
harus memenuhi standar cantik di mata orang lain. Karena, memenuhi kemauan
orang lain nggak bakal ada habisnya, pasti ya kita bakal dituntut kurang dan
kurang. Ujung-ujungnya apa? Insecure,
kan?
Tapi, disini gue akan membagikan
tips-tips yang sekiranya bisa membantu biar kita nggak mudah insecure dan lebih
banyak bersyukur.
1.
Be Your Self.
Seperti
yang gue jelaskan diatas, jangan pernah mengikuti standar kecantikan yang orang
lain buat. Ketika kita melihat cewek-cewek di Instagram yang cakep-cakep,
mungkin kita ada rasa minder dan jadi nggak percaya diri. Tapi, jangan sampe
kita jadi malah ngikutin standar kecantikan yang mereka punya. Beli baju model kekinian,
lihat youtuber ngereview produk skincare latah langsung beli, ujung-ujungnya
nggak cocok, bajunya pun jarang dipake. Tau nggak kenapa? Ya itu karena kita
cuma laper mata doang, beli sesuatu bukan karena kebutuhan, tapi biar diliat up to date dan kekinian.
2.
Be Productive.
Lakuin
hal-hal yang bermanfaat, seperti mengembangkan skill dan bakat lo. Ntah itu di
seni, olahraga, atau bidang lainnya. jangan lupa selain glowing diluar kita
juga harus cemerlang didalam. Asik.
3.
Don’t compare your life with others.
Jangan
banyak melihat kehidupan orang lain dari sosial medianya aja, apalagi
Instagram. Gue tahu, ini tergantung dari gimana lo menyikapi sosmed itu
sendiri. Tapi buat orang yang merasa itu toxic, mending berhenti dulu deh. Kita fokus dengan diri kita sendiri
aja, karena hidup kita nggak harus sama dengan orang lain kan? Kita punya
cerita, kita adalah tokoh utamanya, dan kita yang punya kendali atas diri kita.
Jadi sosial media, menurut gue ya itu udah difilter aja, kita melihat dari yang
bagus-bagusnya aja. Sebenarnya mah, hidupnya sama kok kaya kita yang kaum
rebahan ini. Hehe
4.
Don’t forget to be grateful.
Nah ini
yang nggak boleh lupa, jangan pernah lupa untuk bersyukur. Kita emang nggak
punya pilihan untuk dilahirkan menjadi orang yang rupawan, kita nggak punya
kendali atas itu semua. Tapi kita harus bersyukur, dengan apa? Dengan merawat
apa yang udah Tuhan kasih, bukan berarti kita harus merubah ciptaannya.
Sekali lagi yang ingin gue tekankan
adalah kita bukan manusia yang sempurna. Kita nggak bisa memenuhi standar hidup
yang orang lain mau. Kita nggak bisa memuaskan keinginan semua orang. Kamu
adalah kamu. Aku adalah aku. Kita hidup di cerita yang berbeda-beda, cantik
atau tidak itu bukan pilihan yang Tuhan kasih pas kita lahir didunia. Dan
tentunya kita nggak bisa menolak apapun yang udah Tuhan berikan.
Walaupun hidup kita dituntut untuk
menjadi sempurna dan enak dipandang, tapi inget bahwa Good Looking, Glowing, Shining, Shimmering, Splendid itu nggak bisa
bikin hidup kita sepenuhnya bahagia. Dipuja-puji karena punya fisik yang oke
nggak bikin hidup kita sepenuhnya tenang. Jadi, apa poin nya? Jadilah orang
yang memiliki kepribadian yang menyenangkan, percaya diri, pandai merawat diri,
berbuat baik tanpa memandang siapapun orangnya, mengembangkan terus potensi
yang kita punya. Percaya deh, orang-orang nggak bakal mandang kita dari luarnya
lagi, karena sejatinya cantik itu mempunyai definisi yang beda-beda buat setiap
orang. Gue pun punya arti cantik tersendiri. Apa? Ketika kita berusaha menerima
diri sendiri dan menghargai hidup orang lain.
Source:https://www.thedailyvox.co.za/beauty-bias-creation-of-pretty-privilege-shaazia-ebrahim/

Komentar
Posting Komentar