Postingan

5 Hobi Pencetak Uang di Era New Normal

Gambar
Bagi sebagian pekerja di seluruh dunia baik itu karyawan swasta, pemerintahan, pemilik usaha pasti terkena dampak dari pandemi corona. Akibatnya, banyak  beberapa perusahaan yang menurunkan biaya operasional untuk meminimalisir kerugian karena daya beli masyarakat yang sangat menurun. Maka dari itu, banyak karyawan yang dikurangi pendapatannya bahkan sampai di-PHK. Kejadian ini memang sangat disayangkan dan menjadi keterpurukan tersendiri bagi masyarakat yang terkena dampak secara finansial, namun dengan keadaan yang seperti ini tetap harus memenuhi kebutuhan keluarga. Di tengah kesulitan yang dihadapi, justru membuat orang-orang menjadi kreatif untuk memanfaatkan banyak hal demi mendapatkan pundi-pundi rupiah. Nah, disini saya akan membagikan 5 hobi yang bisa kamu tekuni untuk menghasilkan uang di tengah ketidakpastian terhadap penemuan vaksin corona.           Pertama, Menulis. Siapa sih yang nggak pernah menulis? Semua orang secara tidak langsung pa...

KKN VS MAGANG

Tepat satu tahun yang lalu gue menjalani program KKN alias Kuliah Kerja Nyata. Tapi sebenarnya apakah KKN itu adalah sebuah gambaran dari dunia kerja? Terus gimana sama kampus yang nggak ngadain KKN, tapi diganti dengan PKL atau magang. Bukannya magang itu jauh lebih penting dalam mempersiapkan kita didunia kerja dibanding jadi babu proker? Pada cerita kali ini gue akan membagikan pengalaman waktu gue KKN dan Magang, apa yang gue dapatkan dan seberapa besar impact nya untuk hidup gue sampai saat ini. Akhir Semester 5 sebagian kampus di Indonesia, kita sebagai mahasiswa disiapkan untuk menjalani sebuah program untuk memberdayakan suatu daerah yang terpencil. Dalam waktu 1 bulan kita harus membuat banyak program kerja dan mengumpulkan dana. Tiga tahun kuliah yang kegiatannya cuma belajar di dalam kelas, sekarang kita di paksa untuk memberikan sumbangsih berupa pikiran, tenaga dan materi untuk desa yang nantinya akan kita tempati. Di akhir semester 8 saat saat menjalani skripsi, g...

Cara Mematahkan Stigma Beauty Privilege

Gambar
Cantik, Ingin kata hati berbisik.. Untuk melepas keresahan Dirimu.. Okay, stop. Stop nyanyinya. Tau kan cuplikan lirik lagu diatas? Iya, itu lagu cantik dari kahitna. Beberapa hari yang lalu seantero sosmed di hebohkan sama pernikahannya artis pemain “Ayah mengapa aku berbeda?” iya, siapa lagi kalau bukan Dinda Hauw dan selebgram bernama Rey Mbarang. Sejujurnya gue nggak tau sih si Rey Mbarang ini. Hehe. Pernikahan yang mendadak dan dikabarkan taaruf ini bikin netizen Indonesia pengen juga ngerasain ke- uwu -an mereka. Nah, terus apa hubungannya pernikahan mereka sama lagu kahitna? Emang nggak ada hubungannya guys. Haha. Nah, kemudian setelah dipuja-puji oleh para netizen penikmat ke-uwu-an ini, Dinda Hauw mengupload ke instastory suaminya yang lagi masak mie dengan caption yang pada intinya dia nggak bisa masak, even masak nasi dan mie instan. Terus viral lagi lah pasangan yang baru sehari nikah ini. Ada yang pro dan kebanyakan ya, kontra. Karena fisiknya yang cantik, ...

RASISME : Isu yang Tak Kunjung Usai

Gambar
 “Please I Can’t Breathe” Kalimat diatas adalah kalimat terakhir yang diucapkan oleh George Floyd, seorang pria berkulit hitam yang menjadi sasaran polisi di Minneapolis karena dituduh mengunakan uang palsu. George Floyd pada akhirnya meninggal karena ditindih oleh polisi yang menangkapnya dan menyebabkan ia kesulitan bernapas. Rentetan peristiwa serupa juga tidak hanya dialami oleh George Floyd. Bahwa pada kenyataannya banyak George Floyd-George Floyd lainnya yang kasusnya juga kurang tersorot media. Di tahun yang sama ada Breonna Taylor dan Ahmad Arbey, kemudian mundur 6 tahun kebelakang ada Donte Hamilton dan Eric Garner, dan masih banyak lagi. Dan ini menjadi bukti ketidakadilan perlakuan kepolisian setempat terhadap warga keturunan Afrika-Amerika. Jika kita telusuri dari ratusan tahun yang lalu, perlakuan orang berkulit putih terhadap orang berkulit hitam sudah menjadi sejarah kelam yang seharusnya tidak lagi perlu diulang di Negeri Paman Sam. Perbudakan yang dirasakan...

The New Normal: Akankah kita bisa berdamai dengan Covid-19?

Hampir 3 bulan kita berada #DiRumahAja. Dari yang awalnya mengikuti himbauan dari pemerintah untuk tetap nggak kemana-mana, sampai mungkin kita berada di titik jenuh. Mau ngapain lagi, ya di rumah aja? Ibarat kata sih, pengangguran aja udah eneg banget rebahan terus. Mau jalan-jalan? Nggak bisa. Jangankan ke luar kota, mau ke Mall aja, udah terpampang jelas kalau Mall-nya temporary closed sampai waktu yang nggak ditentukan. Semua aktivitas yang kita lakukan bekerja, sekolah, semua dilakukan secara online dirumah. Covid-19 ini bener-bener buat dunia dan seisinya carut marut. Gimana, nggak? Mulai dari sektor industri, pendidikan, keuangan, pariwisata, semua kena imbasnya. Dan siapa lagi kalau bukan pemerintah yang dibuat kewalahan oleh pandemi ini. Pemerintah pusat harus membuat kebijakan yang seefektif mungkin guna menangani wabah corona yang kini sudah menulari hampir 200 negara dengan kasus terkonfirmasi positif sebanyak 3.476.083 orang. Well, bahkan nggak jarang ada miss komu...

Kewajiban sertifikasi halal, siapkah UMKM?

Kewajiban sertifikasi halal, siapkah UMKM? Seiring dengan kemajuan teknologi dan arus globalisasi, memudahkan para konsumen untuk mendapatkan produk yang mereka inginkan. Namun kemudahan yang didapat tidak seimbang dengan jaminan halal pada produk tersebut. Masih terbayang dalam ingatan kita, mengenai salah satu produk penyedap rasa (MSG) dari PT Ajinomoto Indonesia yang dikabarkan menggunakan bahan penolong berupa bactosoytone yang ternyata megandung unsur babi. [1] Dengan adanya kasus tersebut yang mencuat di masyarakat, membuat para konsumen lebih berhati-hati dalam memilah produk mana yang halal dan haram. Maka dari itu Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendirikan lembaga pengkajian pangan, obat-obatan dan kosmetika MUI (LPPOM-MUI) untuk melakukan pengkajian produk halal. Selain makanan, masih banyak produk yang masuk ke dalam negeri dan ternyata belum memiliki label halal. Apalagi Indonesia merupakan negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia, yakni mencapai 87,18 % dari ...

PILPRES 2019

“alahh, dasar kampret” “belain sampe segitunya, dasar cebong!” DUH. Nggak habis pikir kalau lagi scroll timeline twitter, setiap hari isinya ribut perkara pilpres. Teman bisa jadi musuh kalau beda pilihan, malah yang lebih kacau bakal dicoret dari kartu keluarga, “intinya lo harus satu pemikiran sama gue!” wait, wait. Menuju 17 april 2019 nanti Indonesia akan memilih presiden barunya. Dan pastinya semua orang bakal excited, termasuk gue. Tapi yang gue heran adalah kalau lagi debat masalah presiden, nggak pernah kelar dan nggak ada yang mau ngalah. Semuanya ngotot-ngotot- an . Nggak peduli mau benar atau salah data yang dipake, yang penting capres gue menang. Apalagi masalah cebong sama kampret ini. Yaps cebong itu sebutan buat pendukung fanatiknya Jokowi dan Kampret adalah sebutan buat pendukung fanatiknya Prabowo. Nah,semakin kesini gue scroll timeline twitter isinya world war 3 antara cebong sama kampret. Awalnya gue nggak ngerti kenapa harus sebegitunya bela-belain m...